Profile
Antonius Kho

Visual Loyalty

Indonesia English

Visual Loyalty, tentang kesadaran akan kesetiaan kita terhadap profesi kita. Walau banyak rintangan dalam proses menjalaninya, tetapi kita tetap setia. Seperti binatang-binatang peliharaan yang selalu setia kepada tuannya.
Antonius Kho, 2009.

BEGITULAH sepenggal tulisan yang dikirim Antonius Kho kepada saya ketika ia berencana melangsungkan pameran tunggal ini. Judul pameran ini digagas oleh Antonius Kho sendiri. Konsepnya tentang kesetiaan pada profesi. Lalu mengapa Antonius Kho memilih anjing sebagai simbol untuk mewakili 'kesetiaan'?

Anjing adalah hewan yang, dalam batas kebudayaan, tidak hanya telah hadir sebagaimana sifat alaminya yang membawa karakteristik alam (nature), tetapi ia telah pula memasuki suatu wilayah budaya (culture). Anjing dalam peradaban manusia telah dikonstruksi sifat alaminya menjadi mahluk yang memiliki 'tata cara' hidup bersama manusia. Karenanya, dalam peradaban manusia, sejak lama anjing sering difungsikan sebagai hewan pendamping dalam menjalani kehidupan. Maka, dengan mudah kita bisa membedakan anjing penjaga dengan anjing pelacak, misalnya.

Anjing juga bertalian dengan wilayah geografis. Kita misalnya mengenal anjing Kintamani (Bali) yang secara fisik bukan hanya memiliki kekhasan tertentu, tetapi juga secara budaya dikonstruksi oleh tradisi agraris. Cara pengembangbiakkannya, pola makan dan jenis makanannya, bahkan hingga ke tata cara berkomunikasi dengan manusia. Pendeknya, manusia telah mengkonstruksi cara hidup anjing dengan berpedoman pada kebutuhan manusia atas anjing.

Dalam lukisan-lukisan terbaru karya Antonius Kho, anjing-anjing berkeliaran di kanvas-kanvasnya. Ada proses study Antonius Kho terhadap anjing. Antonius Kho yang kebetulan adalah penyayang hewan ini, antara lain memiliki sejumlah anjing di rumahnya. Pergaulan yang bertahun-tahun dengan anjing adalah jalan study yang dilakukannya. Ia bukan hanya mengamati perilaku anjing-anjingnya, tetapi juga telah menjadi bagian dari kehidupannya. Anjing telah dijadikannya untuk memiliki kesetiaan padanya. Dan, ketika seekor anjing sampai pada usia tua, dengan jalannya yang renta dan bulunya kehilangan cahaya, Antonius Kho tetap setia pada hewan kesayanggannya itu. Bukan hanya anjing yang setia pada kehidupan pelukis yang menetap di Ubud ini, tetapi juga kesetiaan Antonius Kho pada hewan peliharaannya. Antonius Kho tetap merawat si tua renta yang tak lagi bercahaya itu.

Hardiman

CATATAN:
1. Istilah ini dikemukanan dalam relasi penandaan simulasi Baudrilland. Istilah ini kemudian yang, antara lain, kerap dipakai dalam analisis karya-karya seni kontemporer.

2. 'Trans-estetik' adalah paradigma kesenian yang menghubungkan batas wilayah kesenian yang sangat plural dan tersegmentasi melalui garis penghubung. Lihat Yasraf Amir Piliang, 2006. "Antara Homogenitas dan Heretogitas: Estetika dalam Cultural Studies" (makalah). Denpasar: Kajian Budaya, Universitas Udayana.

3. Lihat Yasraf Amir Piliang, 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, Yogyakarta: Jalasutra. Hak 183-184.
 
Copyright © 2004, Antonius Kho